<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.3 20210610//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.3/JATS-journalpublishing1-3.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" dtd-version="1.3" article-type="research-article">
    <front>

        <journal-meta>

            <journal-id journal-id-type="issn">2829-7911</journal-id> <!-- issn di ubah -->

            <journal-title-group> <!-- bagian ini di samakan dgn jenis jurnal -->
                <journal-title>Jurnal Ilmiah Pendidikan Holistik (JIPH) </journal-title>
            </journal-title-group>

            <issn pub-type="epub">2829-7911</issn> <!-- issn di ubah -->
            <issn pub-type="ppub">2829-7911</issn> <!-- issn di ubah -->

            <publisher> <!-- bagian ini di samakan dgn jenis jurnal -->
                <publisher-name>Jurnal Ilmiah Pendidikan Holistik (JIPH) </publisher-name>
            </publisher>

        </journal-meta>

        <article-meta>
            <article-id pub-id-type="doi">10.55927/jiph.v4i3.97</article-id><!-- DOI ini di ubah -->
            <article-categories/>

            <title-group> <!-- ini judul di ubah dgn judul jurnal/artikel -->
                <article-title>Improving Social Studies Learning Through the Quantum 
                Teaching  Learning  Model  for  Fifth  Grade  Students  at  SDIT  AL 
                Muttaqin, Madiun City</article-title>
            </title-group>

            <contrib-group> <!-- bagian ini di samakan dgn nama penulis di jurnal -->
                <contrib contrib-type="author">
                    <name>
                        <given-names>Sri </given-names> <!-- Nama pertama -->
                        <surname>Wahyudi</surname> <!-- Nama belakang -->
                    </name>
                    <xref ref-type="corresp" rid="cor-0"/>
                </contrib>
            </contrib-group>

            <author-notes>
                <corresp id="cor-0">
                    <p>
                        <bold>Corresponding author:</bold>Sri Wahyudi
                        <email> massriwahyu@gmail.com  </email>
                    </p>
                </corresp>
            </author-notes>

            <!-- Bagian ini juga di samakan dgn jurnal -->
            <pub-date-not-available/>
            <pub-date-not-available/>
            <volume>4</volume> <!-- Volume di ubah -->
            <fpage>209</fpage> <!-- Halaman depan di ubah -->
            <lpage>220</lpage> <!-- Halaman belakang di ubah -->

            <!-- Bagian tanggal, bulan, tahun harus diubah sesuai dengan jurnal -->
            <history>
                <date date-type="received" iso-8601-date="2025-07-15">
                    <day>15</day> <!-- tanggal -->
                    <month>07</month> <!-- bulan -->
                    <year>2025</year> <!-- tahun -->
                </date>

                <date date-type="rev-recd" iso-8601-date="2025-07-29">
                    <day>29</day> <!-- tanggal -->
                    <month>07</month> <!-- bulan -->
                    <year>2025</year> <!-- tahun -->
                </date>
                
                <date date-type="accepted" iso-8601-date="2025-08-22">
                    <day>22</day> <!-- tanggal -->
                    <month>08</month> <!-- bulan -->
                    <year>2025</year> <!-- tahun -->
                </date>
            </history>

            <permissions>

                <!-- Ini juga di samakan dengan jenis jurnal, kalau beda, ya di ubah/samakan -->
                <copyright-holder>JJurnal Ilmiah Pendidikan Holistik (JIPH) </copyright-holder>

                <license> <!-- Ini gak usah di ubah -->
                    <ali:license_ref xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0/">https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/</ali:license_ref>
                    <license-p>This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited.</license-p>
                </license>

            </permissions>

            <!-- Ini di ubah, diisi dengan judul jurnal -->
            <!-- bagian isi dari xlink:title di ubah dan setelahnya juga judul jurnal diubah -->
            <!-- bagian isi dari xlink:href juga di sesuaikan dengan link jurnal nya -->
            <self-uri xlink:href="https://journal.formosapublisher.org/index.php/jiph" xlink:title="Improving Social Studies Learning Through the Quantum 
            Teaching  Learning  Model  for  Fifth  Grade  Students  at  SDIT  AL 
            Muttaqin, Madiun City">Improving Social Studies Learning Through the Quantum 
            Teaching  Learning  Model  for  Fifth  Grade  Students  at  SDIT  AL 
            Muttaqin, Madiun City</self-uri>
            <abstract> <!-- Abstrak di ubah/sesuaikan dengan jurnal -->
                <p>This  study  aims  to  improve  the  motivation  of 
                fifth-grade students of SDIT Al Muttaqin 
                Madiun  City  to  learn  social  studies  through  the 
                application of the Quantum Teaching model 
                that creates a more enjoyable learning 
                atmosphere. The type of research chosen is 
                collaborative CAR with the Kemmis and 
                McTaggart  model,  implemented  in  two  cycles, 
                each  with  three  meetings.  The  research  subjects 
                consisted of 17 students. Data collection 
                techniques used scales and observations that 
                have  been  validated  through  expert  judgment 
                and  product-moment  tests.  Data  were  analyzed 
                descriptively,  qualitatively,  and  quantitatively. 
                The results show that the application of 
                Quantum  Teaching with ice-breaking strategies, 
                building self-confidence, accommodating 
                learning styles, demonstrating concepts, 
                nonverbal communication, and strengthening 
                focus can increase learning motivation. The 
                percentage  of  the  high  category  increased  from 
                16.67% pre-action to 57.14% in cycle I, and 
                85.71% in cycle II</p>
            </abstract>

            <!-- ini bagian keyword juga disesuaikan dgn jurnal -->
            <kwd-group>
                <kwd>Learning Motivation</kwd>
                <kwd>Quantum Teaching</kwd>
                <kwd>Social Studies Learning</kwd>
                <kwd>Classroom Action Research</kwd>
                <kwd>Elementary School Students</kwd>
            </kwd-group>

            <!-- Bagian ini tidak perlu di ubah -->
            <custom-meta-group>
                <custom-meta>
                    <meta-name>File created by JATS Editor</meta-name>
                    <meta-value>
                        <ext-link ext-link-type="uri" xlink:href="https://jatseditor.com" xlink:title="JATS Editor">JATS Editor</ext-link>
                    </meta-value>
                </custom-meta>
            </custom-meta-group>

        </article-meta>
    </front>
    
    <body>

        <sec>
            <title>PENDAHULUAN</title>
            <p>Motivasi  merupakan  faktor  penting  yang  memengaruhi  keberhasilan 
            belajar siswa. Motivasi berperan sebagai dorongan internal yang 
            menumbuhkan semangat, mempertahankan, dan mengarahkan kegiatan 
            belajar agar tujuan pembelajaran tercapai. Siswa yang memiliki motivasi tinggi 
            cenderung lebih aktif, konsisten, dan berusaha maksimal dalam proses 
            pembelajaran.  Dimyati  dan  Mudjiono  (2006:85)  menegaskan  bahwa  motivasi 
            belajar membantu siswa memahami posisi mereka dalam proses belajar, 
            menyadari pentingnya usaha, mengarahkan aktivitas, menumbuhkan 
            semangat, serta mendorong pemanfaatan kemampuan untuk meraih hasil yang 
            optimal. Pembelajaran dapat berlangsung efektif apabila siswa memiliki 
            motivasi belajar. Hamzah B. Uno (2013:31) menyebutkan enam indikator 
            motivasi  belajar,  yaitu:  (1)  keinginan  untuk  meraih  keberhasilan,  (2)  dorongan 
            dan kebutuhan belajar, (3) harapan serta cita-cita masa depan, (4) penghargaan 
            atas usaha belajar, (5) keterlibatan dalam kegiatan belajar yang menarik, dan (6) 
            dukungan lingkungan belajar yang nyaman.</p>
            <p>Siswa  dengan  motivasi  belajar  tinggi  cenderung  menunjukkan  perilaku 
            positif  selama  pembelajaran.  Menurut  Sardiman  A.  M.  (2006:83),  indikatornya 
            antara  lain:  tekun  dalam  menyelesaikan  tugas,  gigih  menghadapi  kesulitan, 
            memiliki rasa ingin tahu terhadap berbagai persoalan, lebih suka bekerja 
            mandiri, tidak cepat puas dengan tugas yang monoton, mampu 
            mempertahankan  pendapat,  serta  gemar  mencari  dan  memecahkan  masalah. 
            Sebaliknya,  siswa  dengan  motivasi  rendah  seringkali  tampak  kurang  peduli, 
            mudah  menyerah,  cenderung  mengganggu  teman,  tidak  fokus  pada  pelajaran, 
            dan akhirnya berdampak pada rendahnya hasil belajar. </p>
            <p>Motivasi  belajar  memiliki  peran  penting  dalam  pendidikan  di  sekolah 
            dasar, terutama pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Mata 
            pelajaran ini membantu siswa memahami nilai-nilai demokrasi, mengenal  diri, 
            serta  menyadari  tanggung  jawabnya  sebagai  bagian  dari  masyarakat  global. 
            Menurut Kosasih (dalam Solihatin &amp; Raharjo, 2007), IPS juga mengkaji 
            hubungan  manusia  dengan  lingkungannya,  di  mana  siswa  dihadapkan  pada 
            beragam persoalan sosial. Motivasi akan mendorong siswa untuk lebih 
            bersemangat mempelajari IPS  sehingga mampu memahami dan mencari solusi 
            dari permasalahan yang muncul di lingkungannya.  Hamid  Hasan dan Kosasih 
            menegaskan  bahwa  pembelajaran  IPS  di  sekolah  dasar  bertujuan  membekali 
            siswa  dengan  konsep  dasar  ilmu  sosial,  menumbuhkan  kepedulian  terhadap 
            masalah  sosial,  serta  membentuk  pribadi  yang  bertanggung  jawab  sebagai 
            warga  negara.  Mengacu  pada  tujuan  pembelajaran  Ilmu  Pengetahuan  Sosial, 
            keberhasilan pencapaiannya sangat bergantung pada peran guru dalam 
            merancang pembelajaran yang efektif. Guru tidak cukup hanya menyampaikan 
            materi  atau  konsep  secara  hafalan,  tetapi  dituntut  mampu  mendorong  siswa 
            agar pengetahuan yang diperoleh dapat digunakan sebagai bekal dalam 
            kehidupan  bermasyarakat.  Oleh  karena  itu,  guru  perlu  menciptakan  strategi 
            yang menjadikan IPS lebih menarik, mudah dipahami, sekaligus 
            membangkitkan  motivasi  belajar  sehingga  siswa  memiliki  dorongan  untuk 
            mempelajari IPS dengan antusias. </p>
        </sec>

        <sec>
            <title>TINJAUAN PUSTAKA</title>
            <p>Motivasi  secara  etimologis  berasal  dari  bahasa  Inggris  motivation  yang 
            berarti dorongan atau daya batin yang menggerakkan individu untuk 
            bertindak.  Dalam  konteks  pendidikan,  motivasi  dapat  diartikan  sebagai  segala 
            sesuatu  yang  mendorong  seseorang  untuk belajar  dalam  rangka  mencapai 
            tujuan  tertentu.  Dorongan  ini  bisa  muncul  dari  dalam  diri  sendiri  (intrinsik) 
            maupun dari luar (ekstrinsik) (Uno, 2016; Sardiman, 2018).</p>
            <p>Komponen  motivasi  dalam  belajar  mencakup  dua  aspek  utama,  yaitu 
            intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik timbul karena dorongan batin, 
            misalnya  rasa  ingin  tahu,  kepuasan  pribadi,  kebanggaan  setelah  berhasil,  serta 
            kesesuaian dengan minat. Sementara itu, motivasi ekstrinsik muncul dari faktor 
            luar seperti pujian guru, nilai akademik, kompetisi, hadiah,  harapan orang tua, 
            maupun tekanan lingkungan (Sanjaya, 2019). </p>
            <p>Motivasi memiliki fungsi penting dalam proses belajar. Pertama, 
            motivasi bertindak sebagai kekuatan penggerak (drive) yang memulai aktivitas 
            belajar. Kedua, motivasi menjaga keberlanjutan atau persistensi belajar 
            meskipun siswa menghadapi hambatan. Ketiga, motivasi mengarahkan 
            perilaku agar sesuai dengan tujuan pembelajaran. Keempat, motivasi 
            memengaruhi  intensitas  usaha dan  perhatian  siswa  terhadap materi,  serta 
            meningkatkan keterlibatan atau engagement dalam aktivitas pembelajaran 
            (Dimyati &amp; Mudjiono, 2013). </p>
            <p>Karakteristik  motivasi  belajar  bersifat  dinamis  karena  dapat  berubah 
            sesuai  kondisi  internal  maupun  eksternal,  misalnya  suasana  hati,  lingkungan 
            belajar, serta metode pengajaran. Motivasi juga dipengaruhi oleh faktor 
            personal  seperti  minat,  kemampuan,  dan  harga  diri,  serta  faktor  kontekstual 
            seperti  dukungan  guru,  orang  tua,  media  pembelajaran,  kondisi  kelas,  dan 
            suasana  belajar.  Siswa  yang  memiliki  motivasi  belajar  kuat  umumnya  lebih 
            tahan  menghadapi  kesulitan,  lebih  kreatif,  dan  lebih  proaktif  dalam  mengikuti 
            pembelajaran (Hamzah, 2017).</p>
            <p>Hubungan motivasi dengan hasil belajar telah banyak diteliti, dan secara 
            umum ditemukan bahwa motivasi belajar yang tinggi berkorelasi positif 
            dengan  pencapaian  hasil  belajar  yang  lebih  baik.  Sebaliknya,  motivasi  yang 
            rendah dapat menyebabkan siswa cepat menyerah, kurang fokus, dan 
            memperoleh  hasil  belajar  yang  kurang  maksimal  (Schunk,  Pintrich,  &amp;  Meece, 
            2014;  Uno,  2016).  Walaupun  banyak  definisi  klasik  tentang  motivasi  belajar 
            telah  dikemukakan  oleh  para  ahli,  seperti  Hamzah  B.  Uno,  Sardiman,  Skinner, 
            dan Dubin, kajian-kajian terbaru memberikan perspektif yang lebih 
            kontekstual. Misalnya, penelitian “Dynamics of Motivation in PAI Learning: 
            Study of McClelland’s Theory” (2022) menunjukkan bahwa motivasi prestasi, 
            kekuasaan,  dan  afiliasi  memiliki  peran  berbeda  dalam  mendorong  motivasi 
            siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam 
            (journal.iaimnumetrolampung.ac.id).  Selanjutnya,  penelitian  tentang  motivasi 
            belajar di era New Normal (2023) mengungkap bahwa faktor-faktor seperti cara 
            guru  mengajar,  interaksi  siswa-guru,  serta  kesiapan  penerapan  metode  daring 
            maupun  hibrida  sangat  memengaruhi  motivasi  siswa  dalam  konteks  pasca 
            pandemi (Journal on Education).</p>
            <p>Temuan  lain  dari  studi  berjudul  “Learning  Motivation  and  Student 
            Engagement” di SMAN X Gowa (2023) memperlihatkan adanya korelasi positif 
            signifikan antara motivasi belajar dan keterlibatan siswa (student engagement); 
            semakin  tinggi  motivasi  siswa,  semakin  tinggi  pula  partisipasi  mereka  dalam 
            aktivitas pembelajaran (journal.stkip-andi-matappa.ac.id). Sementara itu, 
            analisis  mengenai  motivasi  siswa  dalam  pemanfaatan  platform  digital  pada 
            pembelajaran online di SMP Kuansing (2021–2022) menunjukkan bahwa secara 
            umum motivasi belajar siswa berada pada kategori “baik”, meskipun terdapat 
            variasi pada aspek-aspek tertentu seperti konsentrasi, rasa ingin tahu, semangat 
            belajar, dan kemandirian (jes.ejournal.unri.ac.id). </p>
            <p>Berdasarkan  berbagai  temuan  tersebut,  dapat  disintesis  bahwa  motivasi 
            belajar  adalah  kekuatan  psikologis  yang  bersumber  dari  dalam  diri  maupun 
            lingkungan luar, yang berfungsi untuk memulai, mempertahankan, dan 
            mengarahkan perilaku belajar siswa demi tercapainya tujuan pendidikan. 
            Motivasi ini ditandai dengan adanya rasa ingin tahu, keinginan untuk berhasil, 
            perhatian terhadap tugas, konsistensi dalam berusaha, serta kemampuan untuk 
            beradaptasi terhadap hambatan yang muncul dalam proses pembelajaran.</p>
        </sec>

        <sec>
            <title>METODOLOGI</title>
            <p>Penelitian  ini  menggunakan  penelitian  tindakan  kelas  (PTK)  dengan 
            model  spiral  Kemmis  dan  Taggart  (Suwarsih  Madya,  2007).  PTK  ini  bersifat 
            kolaboratif,  melibatkan  guru  kelas  V  SDIT  Al  Muttaqin  Kota  Madiun  sebagai 
            pelaksana pembelajaran dan peneliti sebagai observer. Tindakan yang 
            dilakukan  berupa  penerapan  model  Quantum  Teaching  untuk  meningkatkan 
            motivasi belajar IPS siswa. </p>
            <p>Data  dikumpulkan melalui  observasi  dan  skala  motivasi.  Instrumen 
            penelitian  berupa  pedoman  observasi  dan  angket  motivasi  yang  divalidasi 
            melalui  validitas  konstruk  (expert  judgment)  dan  diuji  menggunakan  validitas 
            eksternal. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan statistik 
            deskriptif  kuantitatif.  Penelitian  dikatakan  berhasil  apabila  minimal  75%  siswa 
            mencapai skor motivasi ≥ 75 (kategori tinggi).</p>
        </sec>
        
        <sec>
            <title>HASIL PENELITIAN</title>
            <p>Studi ini dilakukan di kelas V SDIT Al Muttaqin Kota Madiun. Tujuannya 
            adalah untuk menggunakan model pembelajaran quantum untuk meningkatkan 
            motivasi  siswa  untuk  belajar  IPS.    Penelitian  tindakan  kelas  ini  terdiri  dari  dua 
            siklus,  dengan  tiga  pertemuan  setiap  siklus,  atau  enam  jam  pelajaran.    Tabel  1 
            menunjukkan rincian waktu pelaksanaan penelitian. </p>
            <table-wrap >
                <label>Tabel 1.Waktu Pengambilan Data Penelitian</label>
                <table frame="hsides" rules="groups">
                    <thead>
                    <tr>
                        <th>Siklus</th>
                        <th>Hari</th>
                        <th>Tanggal</th>
                        <th>Waktu</th>
                    </tr>
                    </thead>
                    <tbody>
                    <tr>
                        <td>Pra Tindakan</td>
                        <td>Kamis</td>
                        <td>25 Juli 2024</td>
                        <td>09.40–10.50</td>
                    </tr>
                    <tr>
                        <td rowspan="3">1</td>
                        <td>Selasa</td>
                        <td>30 Juli 2024</td>
                        <td>07.00–08.10</td>
                    </tr>
                    <tr>
                        <td>Kamis</td>
                        <td>01 Agustus 2024</td>
                        <td>09.40–10.50</td>
                    </tr>
                    <tr>
                        <td>Kamis</td>
                        <td>08 Agustus 2024</td>
                        <td>09.40–10.50</td>
                    </tr>
                    <tr>
                        <td rowspan="3">2</td>
                        <td>Selasa</td>
                        <td>13 Agustus 2024</td>
                        <td>07.00–08.10</td>
                    </tr>
                    <tr>
                        <td>Kamis</td>
                        <td>15 Agustus 2024</td>
                        <td>09.40–10.50</td>
                    </tr>
                    <tr>
                        <td>Kamis</td>
                        <td>22 Agustus 2024</td>
                        <td>09.40–10.50</td>
                    </tr>
                    </tbody>
                </table>
            </table-wrap>
            <p>Sebelum  tindakan,  peneliti  melakukan  wawancara  dan  observasi  dengan 
            guru  kelas  V.  Dari  hasil  wawancara,  mereka  menemukan  bahwa  siswa  hanya 
            mendengarkan, mencatat, dan kadang-kadang menjawab pertanyaan, sementara 
            pembelajaran  IPS  sebelumnya  lebih  berfokus  pada penjelasan  guru  sesuai  buku 
            paket.   Dalam keadaan ini, siswa menjadi pasif, tidak tertarik, dan bosan. Hasil 
            observasi juga menunjukkan bahwa beberapa siswa tidak memperhatikan 
            penjelasan guru dan malah bermain  sendiri, berbicara dengan teman,  atau 
            menggambar.  Siswa  tampak  tidak  antusias  saat  diminta  mengerjakan  tugas 
            karena  mereka  menganggap  IPS  sebagai  mata  pelajaran  yang  sulit.  Selain  itu, 
            guru  jarang  memberikan  penghargaan  atau  pujian  kepada  siswa  yang  berhasil 
            menyelesaikan tugas, yang mengurangi motivasi mereka. </p>
            <p>Untuk memperoleh gambaran awal motivasi belajar siswa, peneliti 
            menyebarkan  skala  motivasi  belajar  kepada  20  siswa  yang  hadir.  Data  pra 
            tindakan  menunjukkan  bahwa  52,94%  siswa  memiliki  motivasi  rendah  (skor  &gt; 
            50),  29,41%  berada  pada  kategori  sedang  (skor  50–74),  dan  hanya  17,64%  yang 
            tergolong  tinggi  (skor  75–100).  Dengan  demikian,  lebih  dari  setengah  jumlah 
            siswa kelas V memiliki motivasi belajar rendah. </p>
            <p>Jika  indikator  digunakan,  hampir  semua  elemen  motivasi  siswa  masih 
            dianggap  rendah.    Indikator  minat  dan  keinginan  belajar  IPS  memperoleh  skor 
            46  (rendah),  dorongan  dan  kebutuhan  untuk  belajar  46  (rendah),  harapan  dan 
            cita-cita 43 (rendah), rasa senang dan puas dalam mengerjakan tugas 46 (rendah), 
            lingkungan belajar yang kondusif 48 (rendah), kegiatan belajar yang menarik 49 
            (rendah), dan penghargaan-hukuman dalam pembelajaran 52 (sedang).  Data ini 
            mendukung  kesimpulan  bahwa  siswa  masih  memiliki  motivasi  yang  rendah 
            untuk  belajar  IPS  dan  bahwa  model  pembelajaran  yang  lebih  menarik  seperti 
            Quantum Teaching perlu diperbaiki. </p>
            <p>Setelah melalui dua siklus tindakan, motivasi belajar siswa menunjukkan 
            peningkatan  yang  signifikan.  Hasil  pengukuran  pada  siklus  II  memperlihatkan 
            bahwa 85,71% siswa mencapai kategori tinggi (skor ≥ 75), sedangkan 14,28% 
            berada  pada  kategori  sedang,  dan  tidak  ada  siswa  yang  tergolong  rendah. 
            Dengan  demikian,  sebagian  besar  siswa  telah  menunjukkan  motivasi  belajar 
            yang tinggi. </p>
            <p>Setiap  indikator  menunjukkan  tingkat  motivasi  yang  meningkat.      Siswa 
            menunjukkan  minat  dan  keinginan  yang  lebih  besar  untuk  belajar,  keinginan 
            dan  dorongan  untuk  memahami  IPS,  dan cita-cita  yang  lebih  jelas. Mereka  juga 
            lebih senang dan puas saat mengerjakan tugas, lingkungan belajar menjadi lebih 
            kondusif,  kegiatan  belajar  menjadi  lebih  menarik,  dan  guru  mulai  memberikan 
            penghargaan yang dapat meningkatkan antusiasme siswa. </p>
            <p>Berdasarkan temuan ini, dapat disimpulkan bahwa, sesuai dengan kriteria 
            keberhasilan yang ditetapkan dalam penelitian ini, penerapan model 
            pembelajaran quantum membantu siswa kelas V SDIT Al Muttaqin Kota Madiun 
            menjadi lebih termotivasi untuk belajar IPS. </p>
        </sec>

        <sec>
            <title>PEMBAHASAN</title>
            <sec>
                <p>Pada  tahap  pra  tindakan,  hasil  tes  skala  motivasi  belajar  menunjukkan 
                bahwa  sebagian  besar  siswa  masih  berada  pada  kategori  rendah.  Sebanyak 
                57,14% siswa memperoleh skor &gt;50, 26,19% berada pada kategori sedang dengan 
                skor  50–74,  dan  hanya  16,67%  yang  mencapai  kategori  tinggi  dengan  skor  75–
                100. Dari tujuh indikator motivasi belajar yang dianalisis, enam indikator berada 
                dalam kategori rendah, seperti minat, dorongan, harapan, rasa senang, 
                lingkungan  belajar,  dan  kegiatan  belajar.  Hanya  satu  indikator  yang  berada 
                dalam  kategori  sedang,  yaitu penghargaan  dan  hukuman.  Data  ini menegaskan 
                bahwa  motivasi  belajar  IPS  siswa  kelas  V  SDIT  Al  Muttaqin  Kota  Madiun 
                tergolong rendah. </p>
                <p>Kondisi rendahnya motivasi belajar siswa menunjukkan perlunya sebuah 
                tindakan  perbaikan  yang  tepat  agar  siswa  kembali  bersemangat  dan  memiliki 
                dorongan  kuat  dalam  mengikuti  pembelajaran.  Upaya  perbaikan  yang  dapat 
                ditempuh  adalah  dengan  menerapkan  model  pembelajaran  Quantum  Teaching. 
                Model  ini  diyakini  mampu  menciptakan  suasana  belajar  yang  lebih  hidup, 
                menyenangkan,  dan  variatif  sehingga  dapat  mengurangi  kejenuhan  siswa  yang 
                selama  ini  hanya  terbiasa  dengan  pembelajaran  konvensional  yang  monoton. 
                Quantum  Teaching  berorientasi  pada  keterlibatan  aktif  siswa,  di  mana  mereka 
                tidak sekadar menjadi pendengar pasif, tetapi juga aktor utama yang 
                berpartisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran. </p>
                <p>Menurut  Bobbi  DePorter,  Quantum  Teaching  memiliki  kekuatan  untuk 
                menata lingkungan belajar agar menjadi lebih kondusif, serta menyederhanakan 
                proses  pembelajaran  yang  kompleks  sehingga  mudah  dipahami  oleh  siswa. 
                Prinsip  utama  dari  model  ini  adalah  bagaimana  guru  mampu  menghadirkan 
                pengalaman  belajar  yang  bermakna  dengan  memanfaatkan  berbagai  strategi, 
                metode, dan media yang bervariasi. Dalam praktiknya, Quantum Teaching tidak 
                hanya  berfokus  pada  penyampaian  materi,  melainkan  juga  pada  pembentukan 
                suasana yang penuh keriangan, keakraban, dan motivasi. Dengan suasana 
                tersebut,  siswa  merasa  dihargai,  diperhatikan,  dan  akhirnya  terdorong  untuk 
                terlibat langsung dalam proses pembelajaran. </p>
                <p>Selain itu, Quantum Teaching menekankan pada konsep TANDUR 
                (Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan), yang 
                menjadi strategi inti untuk mengaktifkan seluruh potensi siswa. Melalui langkah-
                langkah ini, guru dapat menumbuhkan minat siswa, menghadirkan pengalaman 
                nyata, memberi kesempatan mereka untuk mencoba, dan menguatkan 
                pemahaman  melalui  pengulangan  yang  menyenangkan.  Tidak  kalah  penting, 
                perayaan  kecil  berupa  apresiasi  dan  penghargaan  dapat  meningkatkan  rasa 
                percaya  diri  siswa  dan  memberikan  motivasi  ekstrinsik  yang  positif.  Dengan 
                demikian, Quantum Teaching bukan hanya sekadar metode pembelajaran, tetapi 
                juga sebuah  pendekatan komprehensif yang mampu membangun motivasi, 
                kepercayaan diri, serta kemandirian belajar siswa. </p>
                <p>Pada siklus I, guru menerapkan strategi TANDUR dengan berbagai 
                variasi kegiatan. Siswa diajak menonton video sesuai materi, menyanyikan lagu 
                yang  relevan,  bekerja  dalam  kelompok  kecil,  dan  membuat  laporan  bersama. 
                Guru juga mengapresiasi usaha siswa melalui perayaan sederhana seperti yel-yel 
                kelas dan tepuk tangan bersama. Hasil dari tindakan ini menunjukkan 
                peningkatan  motivasi  belajar,  ditandai  dengan  persentase  siswa  yang  mencapai 
                kategori tinggi naik dari 16,67% menjadi 57,14%. </p>
                <p>Meskipun terjadi peningkatan, pelaksanaan siklus I masih menemui 
                beberapa  kendala.  Guru  belum  maksimal  dalam  menjelaskan  poster  ikon  yang 
                seharusnya berfungsi sebagai media motivasi. Penataan ruang kelas yang kurang 
                tepat  menimbulkan  suasana  gaduh.  Gaya  belajar  kinestetik  belum  sepenuhnya 
                difasilitasi,  reward  belum  diberikan  secara  optimal,  dan  masih  ada  siswa  yang 
                pasif  dalam  kelompok.  Selain  itu,  beberapa  siswa  masih  malu  bertanya,  kurang 
                percaya diri, serta belum tegas dalam mengemukakan pendapat. </p>
                <p>Berdasarkan  temuan  tersebut,  dilakukan  perbaikan  pada  siklus  II.  Guru 
                menata ulang ruang kelas agar lebih kondusif, menjelaskan poster ikon, 
                memberikan kesempatan pada siswa dengan gaya belajar kinestetik, serta 
                memberikan  penghargaan  berupa  stiker  prestasi  kepada  siswa  yang  berhasil 
                menyelesaikan tugas. Perubahan ini mendorong siswa lebih aktif, berani 
                bertanya, menanggapi pendapat teman, dan tampil di depan kelas untuk 
                mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. </p>
                <p>Hasil  siklus  II  menunjukkan  peningkatan  yang  signifikan.  Persentase 
                siswa  yang  mencapai  motivasi  kategori  tinggi  naik  menjadi  85,71%,  sedangkan 
                sisanya  berada  pada  kategori  sedang.  Tidak  ada  lagi  siswa  yang  berada  pada 
                kategori  rendah.  Selain  itu,  semua  indikator  motivasi  belajar—minat,  dorongan, 
                harapan, rasa senang, lingkungan belajar, kegiatan menarik, dan penghargaan—
                berada  pada  kategori  tinggi.  Hal  ini  menunjukkan  bahwa  penerapan  model 
                Quantum Teaching memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan 
                motivasi belajar siswa.</p>
                <p>Secara  keseluruhan,  penerapan  model  pembelajaran  Quantum  Teaching 
                dalam  mata  pelajaran  IPS  di  kelas  V  SDIT  Al  Muttaqin  Kota  Madiun  terbukti 
                efektif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Perubahan dari pra tindakan 
                hingga siklus II menunjukkan lonjakan motivasi yang signifikan. Dengan 
                suasana belajar yang menyenangkan, strategi pembelajaran yang bervariasi, dan 
                penghargaan terhadap usaha siswa, motivasi belajar mereka tumbuh lebih kuat. 
                Hasil  ini  sejalan  dengan  pendapat  Udin  Syaefudin  bahwa  Quantum  Teaching 
                dapat meningkatkan partisipasi, minat, serta motivasi siswa dalam proses 
                pembelajaran. </p>
            </sec>
        </sec>

        <sec>
            <title>KESIMPULAN DAN REKOMENDASI</title>
               <p>Hasil telaah literatur menunjukkan bahwa penerapan pendidikan 
                kewarganegaraan inklusif berpotensi besar dalam menanamkan dan 
                memperkuat  sikap toleransi  pada  anak  berkebutuhan  khusus.  Inklusivitas  tidak 
                hanya  sebatas  akses  fisik,  tetapi  juga  mendorong  tumbuhnya  kesadaran  sosial 
                siswa  reguler  untuk  menghargai  perbedaan  dan  membangun  hubungan  yang 
                saling  menghormati. Interaksi  antara  siswa  reguler  dan  anak  berkebutuhan 
                khusus menciptakan suasana sekolah yang lebih harmonis, toleran, dan 
                berlandaskan nilai kemanusiaan. Dengan demikian, pendidikan 
                kewarganegaraan inklusif menjadi sarana strategis dalam menegakkan keadilan, kesetaraan,  serta  solidaritas  sosial,  sekaligus  memperkaya  pemahaman  siswa 
                tentang keberagaman sebagai bagian penting kehidupan bermasyarakat. </p>
                <p>Selain  membangun  toleransi,  pendidikan  kewarganegaraan  inklusif  juga 
                berkontribusi  pada peningkatan  kemandirian sosial  anak  berkebutuhan  khusus. 
                Melalui kurikulum yang fleksibel, strategi pembelajaran adaptif, serta dukungan 
                dari guru, teman sebaya, dan orang tua, anak didorong untuk berinisiatif, berani 
                berinteraksi, dan mengambil keputusan dalam situasi sosial. Lingkungan belajar 
                yang  setara  memungkinkan  mereka  mengurangi  ketergantungan  pada  orang 
                lain,  memperkuat  rasa  percaya  diri,  dan  berkembang  sebagai  individu  mandiri 
                serta adaptif.</p>
                <p>Keberhasilan penerapan pendidikan kewarganegaraan inklusif 
                membutuhkan komitmen seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, sekolah, 
                guru,  orang  tua,  dan  masyarakat.  Komitmen  ini  dapat  diwujudkan  melalui 
                penyediaan sumber daya memadai, pelatihan guru secara berkelanjutan, 
                penggunaan  media  pembelajaran  yang sesuai,  serta  evaluasi  berkesinambungan 
                untuk menilai  efektivitas program. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat 
                memperluas  analisis  terhadap  dampak  jangka  panjang  dan  menelaah  variasi 
                kontekstual  lokal,  sehingga  pendidikan  kewarganegaraan  inklusif  benar-benar 
                menjadi strategi jangka panjang dalam membentuk generasi ya. </p>
        </sec>

        <sec>
            <title>PENELITIAN LANJUTAN </title>
            <p>Hasil telaah literatur menunjukkan bahwa penerapan pendidikan 
            kewarganegaraan inklusif berpotensi besar dalam menanamkan dan 
            memperkuat  sikap toleransi  pada  anak  berkebutuhan  khusus.  Inklusivitas  tidak 
            hanya  sebatas  akses  fisik,  tetapi  juga  mendorong  tumbuhnya  kesadaran  sosial 
            siswa  reguler  untuk  menghargai  perbedaan  dan  membangun  hubungan  yang 
            saling  menghormati. Interaksi  antara  siswa  reguler  dan  anak  berkebutuhan 
            khusus menciptakan suasana sekolah yang lebih harmonis, toleran, dan 
            berlandaskan nilai kemanusiaan. Dengan demikian, pendidikan 
            kewarganegaraan inklusif menjadi sarana strategis dalam menegakkan keadilan, kesetaraan,  serta  solidaritas  sosial,  sekaligus  memperkaya  pemahaman  siswa 
            tentang keberagaman sebagai bagian penting kehidupan bermasyarakat. </p>
            <p>Selain  membangun  toleransi,  pendidikan  kewarganegaraan  inklusif  juga 
            berkontribusi  pada peningkatan  kemandirian sosial  anak  berkebutuhan  khusus. 
            Melalui kurikulum yang fleksibel, strategi pembelajaran adaptif, serta dukungan 
            dari guru, teman sebaya, dan orang tua, anak didorong untuk berinisiatif, berani 
            berinteraksi, dan mengambil keputusan dalam situasi sosial. Lingkungan belajar 
            yang  setara  memungkinkan  mereka  mengurangi  ketergantungan  pada  orang 
            lain,  memperkuat  rasa  percaya  diri,  dan  berkembang  sebagai  individu  mandiri 
            serta adaptif. </p>
            <p>Keberhasilan penerapan pendidikan kewarganegaraan inklusif 
            membutuhkan komitmen seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, sekolah, 
            guru,  orang  tua,  dan  masyarakat.  Komitmen  ini  dapat  diwujudkan  melalui 
            penyediaan sumber daya memadai, pelatihan guru secara berkelanjutan, 
            penggunaan  media  pembelajaran  yang sesuai,  serta  evaluasi  berkesinambungan 
            untuk menilai  efektivitas program. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat 
            memperluas  analisis  terhadap  dampak  jangka  panjang  dan  menelaah  variasi 
            kontekstual  lokal,  sehingga  pendidikan  kewarganegaraan  inklusif  benar-benar 
            menjadi strategi jangka panjang dalam membentuk generasi ya.</p>
        </sec>

         <sec>
            <title>PENELITIAN LANJUTAN </title>
            <p>Penelitian  ini  memiliki  beberapa  keterbatasan  yang  perlu  diperhatikan. 
            Pertama,  media  yang  dikembangkan  hanya  diuji  dalam  konteks  terbatas,  yaitu 
            pada siswa kelas V SDIT Al Muttaqin, sehingga belum dapat dipastikan 
            efektivitasnya pada tingkat kelas lain atau sekolah dengan kondisi yang berbeda. 
            Kedua,  penelitian  ini  belum  mengkaji  secara  mendalam  perbedaan  hasil  belajar 
            antar  siswa  yang  mungkin  dipengaruhi  oleh  faktor-faktor  seperti  gaya  belajar, 
            latar  belakang  kemampuan  bahasa,  maupun  faktor  individual  lainnya.  Ketiga, 
            keterbatasan  waktu  dan  fasilitas  pendukung  di  sekolah  turut  memengaruhi 
            kelancaran implementasi, sehingga hasil penelitian belum sepenuhnya 
            mencerminkan  potensi  maksimal  penggunaan  media  buku  bergambar  dalam 
            pembelajaran menulis puisi. </p>
            <p>Berdasarkan keterbatasan tersebut, disarankan agar penelitian selanjutnya 
            memperluas cakupan  uji  coba  dengan  melibatkan  siswa  dari  tingkat  kelas  yang 
            berbeda  serta  sekolah  dengan  karakteristik  yang  lebih  bervariasi.  Langkah  ini 
            penting agar efektivitas media dapat diuji secara lebih komprehensif dan 
            hasilnya  memiliki  relevansi  yang  lebih  luas.  Selain  itu,  integrasi  media  buku 
            bergambar  dengan teknologi  digital  perlu  dipertimbangkan  untuk  menciptakan 
            media  yang  lebih  interaktif,  menarik,  dan  sesuai  dengan  kebutuhan  generasi 
            digital.  Penelitian  selanjutnya  juga  sebaiknya  melakukan  analisis  komparatif 
            antara  media  buku  bergambar  dengan  jenis  media  pembelajaran  lainnya,  baik 
            yang bersifat konvensional maupun berbasis teknologi, untuk mengetahui 
            efektivitas relatif masing-masing media. Selain fokus pada keterampilan menulis, 
            kajian lebih lanjut dapat diarahkan pada aspek apresiasi sastra, motivasi belajar, 
            serta kemampuan berpikir kreatif siswa, guna memperoleh gambaran yang lebih komprehensif  mengenai  manfaat  media  buku  bergambar  dalam  pembelajaran 
            bahasa Indonesia di sekolah dasar. </p>
        </sec>

        <sec>
            <title>UCAPAN TERIMA KASIH</title>
            <p>Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada 
            semua  pihak  yang  telah  memberikan  dukungan  dalam  pelaksanaan  penelitian 
            ini.  Ucapan  terima  kasih  disampaikan  kepada  dosen  pembimbing  yang  telah 
            memberikan arahan, masukan,  dan bimbingan yang  sangat berharga, sehingga 
            penelitian  ini  dapat  diselesaikan  dengan  baik.  Terima  kasih  juga  ditujukan 
            kepada  para  validator  ahli,  guru,  dan  siswa  yang  telah  berpartisipasi  secara 
            aktif dalam uji coba media pembelajaran ini.</p>
            <p>Selain itu, penulis menghargai dukungan penuh dari keluarga dan 
            rekan-rekan  yang  selalu  memberikan  motivasi  dan  semangat,  serta  kepada 
            pihak  sekolah  yang  telah  memberikan  kesempatan  dan  fasilitas  yang  sangat 
            membantu selama proses penelitian. Apabila penelitian ini mendapat 
            dukungan dana atau fasilitas kelembagaan, penulis juga menyampaikan 
            apresiasi yang mendalam. Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan 
            kontribusi signifikan bagi pengembangan pendidikan, khususnya dalam 
            konteks pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat SDIT.</p>
        </sec>

    </body>

<back>
    <ref-list>
        <title>References</title>

     <ref id="R1">
        <element-citation publication-type="book">
            <person-group person-group-type="author">
            <name><surname>BSNP</surname></name>
            </person-group>
            <year>2006</year>
            <source>Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Dasar</source>
            <publisher-loc>Jakarta</publisher-loc>
            <publisher-name>Departemen Pendidikan Nasional</publisher-name>
        </element-citation>
        </ref>

        <ref id="R2">
        <element-citation publication-type="book">
            <person-group person-group-type="author">
            <name><surname>Dimyati</surname></name>
            <name><surname>Mudjiono</surname></name>
            </person-group>
            <year>2006</year>
            <source>Belajar dan Pembelajaran</source>
            <publisher-loc>Jakarta</publisher-loc>
            <publisher-name>Rineka Cipta</publisher-name>
        </element-citation>
        </ref>

        <ref id="R3">
        <element-citation publication-type="book">
            <person-group person-group-type="author">
            <name><surname>DePorter</surname><given-names>Bobbi</given-names></name>
            </person-group>
            <year>2007</year>
            <source>Quantum Teaching</source>
            <publisher-loc>Bandung</publisher-loc>
            <publisher-name>Kaifa</publisher-name>
        </element-citation>
        </ref>

        <ref id="R4">
        <element-citation publication-type="book">
            <person-group person-group-type="author">
            <name><surname>Solihatin</surname><given-names>Etin</given-names></name>
            <name><surname>Raharjo</surname></name>
            </person-group>
            <year>2009</year>
            <source>Cooperative Learning Analisis Model Pembelajaran IPS</source>
            <publisher-loc>Jakarta</publisher-loc>
            <publisher-name>Bumi Aksara</publisher-name>
        </element-citation>
        </ref>

        <ref id="R5">
        <element-citation publication-type="book">
            <person-group person-group-type="author">
            <name><surname>Uno</surname><given-names>Hamzah B.</given-names></name>
            </person-group>
            <year>2013</year>
            <source>Teori Motivasi dan Pengukurannya</source>
            <publisher-loc>Jakarta</publisher-loc>
            <publisher-name>Bumi Aksara</publisher-name>
        </element-citation>
        </ref>

        <ref id="R6">
        <element-citation publication-type="book">
            <person-group person-group-type="author">
            <name><surname>Dalyono</surname><given-names>M.</given-names></name>
            </person-group>
            <year>2009</year>
            <source>Psikologi Pendidikan</source>
            <publisher-loc>Jakarta</publisher-loc>
            <publisher-name>Rineka Cipta</publisher-name>
        </element-citation>
        </ref>

        <ref id="R7">
        <element-citation publication-type="book">
            <person-group person-group-type="author">
            <name><surname>Sudjana</surname><given-names>Nana</given-names></name>
            </person-group>
            <year>2009</year>
            <source>Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar</source>
            <publisher-loc>Bandung</publisher-loc>
            <publisher-name>Remaja Rosdakarya</publisher-name>
        </element-citation>
        </ref>

        <ref id="R8">
        <element-citation publication-type="book">
            <person-group person-group-type="author">
            <name><surname>Azwar</surname><given-names>Saifudin</given-names></name>
            </person-group>
            <year>2013</year>
            <source>Penyusunan Skala Psikologi</source>
            <publisher-loc>Maumere</publisher-loc>
            <publisher-name>Pustaka Pelajar</publisher-name>
        </element-citation>
        </ref>

        <ref id="R9">
        <element-citation publication-type="book">
            <person-group person-group-type="author">
            <name><surname>Sapriya</surname></name>
            </person-group>
            <year>2009</year>
            <source>Pendidikan IPS</source>
            <publisher-loc>Bandung</publisher-loc>
            <publisher-name>Remaja Rosdakarya</publisher-name>
        </element-citation>
        </ref>

        <ref id="R10">
        <element-citation publication-type="book">
            <person-group person-group-type="author">
            <name><surname>Sardiman</surname><given-names>A. M.</given-names></name>
            </person-group>
            <year>2006</year>
            <source>Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar</source>
            <publisher-loc>Jakarta</publisher-loc>
            <publisher-name>Raja Grafindo Persada</publisher-name>
        </element-citation>
        </ref>

        <ref id="R11">
        <element-citation publication-type="book">
            <person-group person-group-type="author">
            <name><surname>Sardjiyo</surname></name>
            <name><surname>Sugandi</surname><given-names>Didih</given-names></name>
            <name><surname>Ischak</surname></name>
            </person-group>
            <year>2009</year>
            <source>Pendidikan IPS di SD</source>
            <publisher-loc>Jakarta</publisher-loc>
            <publisher-name>Universitas Terbuka</publisher-name>
        </element-citation>
        </ref>

        <ref id="R12">
        <element-citation publication-type="book">
            <person-group person-group-type="author">
            <name><surname>Danim</surname><given-names>Sudarwan</given-names></name>
            </person-group>
            <year>2004</year>
            <source>Motivasi Kepemimpinan dan Efektivitas Kelompok</source>
            <publisher-loc>Jakarta</publisher-loc>
            <publisher-name>Rineka Cipta</publisher-name>
        </element-citation>
        </ref>

        <ref id="R13">
        <element-citation publication-type="book">
            <person-group person-group-type="author">
            <name><surname>Sugihartono</surname></name>
            <etal/>
            </person-group>
            <year>2007</year>
            <source>Psikologi Pendidikan</source>
            <publisher-loc>Maumere</publisher-loc>
            <publisher-name>UNY Press</publisher-name>
        </element-citation>
        </ref>

        <ref id="R14">
        <element-citation publication-type="book">
            <person-group person-group-type="author">
            <name><surname>Sugiyono</surname></name>
            </person-group>
            <year>2009</year>
            <source>Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan R&amp;D)</source>
            <publisher-loc>Bandung</publisher-loc>
            <publisher-name>Alfabeta</publisher-name>
        </element-citation>
        </ref>

        <ref id="R15">
        <element-citation publication-type="book">
            <person-group person-group-type="author">
            <name><surname>Arikunto</surname><given-names>Suharsimi</given-names></name>
            <etal/>
            </person-group>
            <year>2012</year>
            <source>Penelitian Tindakan Kelas</source>
            <publisher-loc>Jakarta</publisher-loc>
            <publisher-name>PT Bumi Aksara</publisher-name>
        </element-citation>
        </ref>

        <ref id="R16">
        <element-citation publication-type="book">
            <person-group person-group-type="author">
            <name><surname>Supardi</surname></name>
            </person-group>
            <year>2011</year>
            <source>Dasar-dasar Ilmu Sosial</source>
            <publisher-loc>Maumere</publisher-loc>
            <publisher-name>Ombak</publisher-name>
        </element-citation>
        </ref>

        <ref id="R17">
        <element-citation publication-type="book">
            <person-group person-group-type="author">
            <name><surname>Madya</surname><given-names>Suwarsih</given-names></name>
            </person-group>
            <year>2009</year>
            <source>Teori dan Praktik Penelitian Tindakan</source>
            <publisher-loc>Bandung</publisher-loc>
            <publisher-name>Alfabeta</publisher-name>
        </element-citation>
        </ref>

        <ref id="R18">
        <element-citation publication-type="book">
            <person-group person-group-type="author">
            <name><surname>Djamarah</surname><given-names>Syaiful Bahri</given-names></name>
            </person-group>
            <year>2002</year>
            <source>Strategi Belajar Mengajar</source>
            <publisher-loc>Jakarta</publisher-loc>
            <publisher-name>Rineka Cipta</publisher-name>
        </element-citation>
        </ref>

        <ref id="R19">
        <element-citation publication-type="book">
            <person-group person-group-type="author">
            <name><surname>Saefudin</surname><given-names>Udin</given-names></name>
            </person-group>
            <year>2008</year>
            <source>Inovasi Pendidikan</source>
            <publisher-loc>Bandung</publisher-loc>
            <publisher-name>Alfabeta</publisher-name>
        </element-citation>
        </ref>

        <ref id="R20">
        <element-citation publication-type="book">
            <person-group person-group-type="author">
            <name><surname>Trianto</surname></name>
            </person-group>
            <year>2010</year>
            <source>Model Pembelajaran Terpadu</source>
            <publisher-loc>Jakarta</publisher-loc>
            <publisher-name>Bumi Aksara</publisher-name>
        </element-citation>
        </ref>

        <ref id="R21">
        <element-citation publication-type="book">
            <person-group person-group-type="author">
            <name><surname>Sanjaya</surname><given-names>Wina</given-names></name>
            </person-group>
            <year>2011</year>
            <source>Penelitian Tindakan Kelas</source>
            <publisher-loc>Jakarta</publisher-loc>
            <publisher-name>Kencana Prenada Media Group</publisher-name>
        </element-citation>
        </ref>
    </ref-list>
</back>

</article>
